Kenaikan laba itu terutama ditopang efisiensi biaya dan perbaikan gross profit margin (GPM) dari 21,9 persen menjadi 26,6 persen.
Namun, BRI Danareksa mengingatkan, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan volume penjualan, terutama di pasar domestik.
Momentum laba MYOR memang kuat, demikian mengutip BRI Danareksa, tetapi valuasinya sudah premium.
MYOR saat ini diperdagangkan pada valuasi PE 11 kali dan PBV 2,21 kali. Meski perseroan memiliki posisi neraca net cash yang solid, investor diminta mencermati potensi pemulihan volume penjualan pada kuartal II-2026 sebelum lebih agresif masuk.
Dari sisi makro, BRI Danareksa menilai inflasi April 2026 yang melandai ke level 2,42 persen menjadi sentimen positif bagi daya beli masyarakat.