Analisis dari Macquarie Group memperkirakan total pelepasan cadangan minyak IEA itu hanya setara sekitar 16 hari volume minyak yang melewati Selat Hormuz.
Selain itu, pasar juga masih menunggu kejelasan mengenai jadwal dan laju pelepasan harian cadangan minyak tersebut.
Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel, di luar persediaan komersial wajib sebesar 600 juta barel.
Stockbit menilai, terdapat dua faktor yang berpotensi menormalkan harga minyak. Pertama, intervensi pasokan melalui pelepasan cadangan minyak strategis. Kedua, demand destruction atau penurunan permintaan akibat kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi, pemerintah berisiko menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) atau melakukan penyesuaian belanja negara.