Pada hari yang sama, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di wilayah Selat Hormuz dan Teluk Persia. Insiden ini terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyatakan menembaki kapal-kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari menegaskan, negaranya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak menuju Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Dia bahkan memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga USD200 per barel.
Menurut Stockbit, Kamis (12/3/2026) kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa pasar masih mencemaskan prospek pasokan energi global.
Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu aliran sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Meski pelepasan cadangan oleh IEA menjadi yang terbesar dalam sejarah, volumenya masih relatif kecil dibandingkan potensi gangguan pasokan tersebut.