"Langkah ini memperkuat positioning ERAA di segmen lifestyle yang memiliki margin relatif lebih tinggi," katanya.
Perseroan juga mendorong diversifikasi produk dan pengembangan ekosistem bisnis, antara lain melalui pop-up store XPeng di kota Bandung untuk memperkenalkan lini kendaraan listrik, serta kemitraan distribusi dengan Belkin guna memperkuat portofolio aksesori premium.
Praktisi Trading sekaligus Board of Director International Federation of Technical Analyst (IFTA) Indrawijaya Rangkuti menilai kehadiran lini bisnis seperti ERAL (produk wearable, olahraga) dan Erajaya Food & Nourishment membuat perusahaan mampu menangkap porsi belanja THR masyarakat di berbagai titik sentuh, bukan hanya di penjualan ponsel pintar.
“Melihat langkah strategis manajemen, saya memproyeksikan ERAA berada dalam fase pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Perusahaan kerap menargetkan segmen non-telepon seluler (seperti gaya hidup aktif dan kendaraan listrik melalui XPENG) menyumbang sekitar 25 persen hingga 30 persen dari total pendapatan dalam beberapa tahun ke depan. Jika transisi ini mulus, ERAA tak lagi sekedar ‘toko hp’ melainkan raksasa ritel gaya hidup modern,” kata dia.
Model bisnis berbasis permintaan berulang atau recurring demand turut diperkuat melalui kolaborasi Erafone dengan mitra operator dalam program bundling perangkat dan layanan data. Skema ini dinilai mampu mendorong volume penjualan sekaligus meningkatkan retensi pelanggan melalui integrasi perangkat dan konektivitas.