Kondisi itu, belum memperhitungkan tambahan kompensasi listrik, berpotensi mendorong defisit fiskal 2026 menembus sekitar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Tekanan tersebut juga menjadi perhatian ekonom CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Wisnu Trihatmojo.
Dalam risetnya, yang terbit pada 10 September 2026, Wisnu menilai penguatan rupiah saat ini merupakan proses mean reversion setelah depresiasi signifikan pada paruh pertama 2026.
Rupiah bahkan dinilai masih sangat undervalued. Berdasarkan kerangka real effective exchange rate (REER), CGSI memperkirakan rupiah sempat undervalued hingga 12 persen pada Juli 2026, level yang disebut sebagai yang terdalam dalam lebih dari satu dekade.
Kondisi tersebut, ditambah stabilnya kebijakan domestik, membantu rupiah bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk kenaikan harga minyak Brent di atas USD100 per barel, kenaikan imbal hasil global, dan ekspektasi pengetatan kebijakan Federal Reserve.