CGSI menilai penguatan rupiah belakangan ini ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari pelemahan indeks dolar AS (DXY), berakhirnya faktor musiman pembayaran dividen, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), suksesi kepemimpinan BI yang dinilai kredibel, hingga arah fiskal yang lebih stabil.
Aliran modal ke surat utang pemerintah juga ikut membantu, seiring meredanya ketidakpastian domestik dan menariknya valuasi aset Indonesia.
Pada saat yang sama, CGSI mencatat penguatan rupiah terhadap dolar AS telah berlangsung selama enam pekan berturut-turut. Rupiah berada sekitar 3,5 persen lebih kuat dari level terlemahnya tahun ini, meski masih melemah 4,5 persen secara year-to-date.
Meski demikian, CGSI memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak yang bertahan lama dapat kembali memperlebar defisit kembar (twin deficit), yakni defisit transaksi berjalan dan fiskal.
Berdasarkan estimasinya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan masing-masing defisit tersebut sekitar 0,2 poin persentase.