Risiko eksternal juga belum sepenuhnya hilang. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada 16 September mencapai 63 persen, dengan keputusan tersebut bergantung pada data inflasi AS.
Jika The Fed mengejutkan pasar dengan pengetatan yang lebih agresif, kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah.
Karena itu, CGSI memandang penguatan rupiah saat ini belum cukup untuk menghilangkan kerentanan struktural.
“Rupiah pada akhirnya dapat kembali tertekan jika tingginya harga minyak memperlebar defisit kembar, The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali, dan tingginya imbal hasil US Treasury (UST) memicu arus keluar modal,” tulis Wisnu.
Penguatan yang berkelanjutan, menurut CGSI, membutuhkan stabilitas kebijakan domestik, penguatan penerimaan fiskal, serta strategi substitusi impor di sektor industri dan jasa.