Sementara itu, laba per saham juga meningkat signifikan dari Rp96,02 pada 2024 menjadi Rp212,47 pada 2025. Dari sisi arus kas, perseroan mencatat arus kas dari aktivitas operasi sebesar Rp1,14 triliun, berbalik positif dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat arus kas negatif Rp423,6 miliar.
Posisi kas dan setara kas pada akhir 2025 tercatat sebesar Rp1,53 triliun atau melonjak 616 persen dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp213,55 miliar.
Pada sisi neraca, total aset HRTA per 31 Desember 2025 mencapai Rp12,6 triliun atau meningkat 111 persen secara tahunan dibandingkan Rp5,96 triliun pada 2024. Peningkatan aset terutama berasal dari kenaikan persediaan, kas, serta peningkatan piutang dan pinjaman yang diberikan.
Sementara itu, total liabilitas perseroan meningkat 160 persen menjadi Rp9,37 triliun dari sebelumnya Rp3,61 triliun, seiring ekspansi pendanaan melalui utang obligasi dan pinjaman bank.
Adapun ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp3,23 triliun pada akhir 2025 atau tumbuh 37 persen dibandingkan Rp2,35 triliun pada 2024, mencerminkan akumulasi laba serta pembagian dividen yang tetap terjaga.
(Shifa Nurhaliza Putri)