Meski demikian, Ryan dan Reggie menilai peluang tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Produksi emas EMAS pada kuartal pertama tahun ini masih relatif kecil, yakni sekitar 1.800 ons, dan belum tercermin dalam laporan keuangan karena belum terdapat penjualan yang dibukukan.
Selain itu, proses dual listing yang tengah ditempuh perusahaan di Hong Kong berpotensi membuat publikasi laporan keuangan menjadi lebih terbatas selama periode blackout.
"Kami melihat potensi masuknya EMAS ke GDX dapat menjadi katalis tambahan setelah dual listing, baik pada peninjauan (review) kuartalan September maupun Desember 2026," tulis mereka.
Indo Premier memperkirakan EMAS berpotensi memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar free float untuk masuk GDX apabila harga sahamnya mampu diperdagangkan di atas Rp8.000 per unit.