Selain itu, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas tahun ini juga diperkirakan hanya mencapai USD4.100 per ons, lebih rendah dari rata-rata harga emas sepanjang 2026 yang sekitar USD4.600 per ons karena sebagian besar penjualan diproyeksikan baru terjadi pada semester kedua, setelah harga emas melewati puncaknya.
Indo Premier juga menilai EMAS berpeluang masuk ke indeks GDX setelah mulai membukukan pendapatan dari penjualan emas pada laporan keuangan kuartal II-2026.
Berdasarkan kajian mereka, seluruh konstituen GDX merupakan operator tambang emas yang telah menghasilkan pendapatan dari emas, sementara EMAS hingga laporan kuartal I-2026 belum mencatatkan pendapatan tersebut.
Jika mulai memenuhi kriteria tersebut, EMAS berpotensi masuk dalam peninjauan indeks GDX pada September 2026. Namun, analis memperkirakan harga saham EMAS perlu berada di kisaran Rp7.500-Rp8.000 per saham agar peluang tersebut semakin besar.
Meski menurunkan proyeksi laba bersih 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 36 persen dan 29 persen akibat asumsi harga emas yang lebih rendah, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga baru Rp7.300 per saham dari sebelumnya Rp9.000 per saham. (Aldo Fernando)