Menurut tim riset, kondisi tersebut membuat perbankan Indonesia tidak mengalami masalah asset-liability mismatch seperti yang pernah terjadi pada sejumlah bank regional Amerika Serikat (AS) pada 2023.
Dengan demikian, aksi jual asing pada saham perbankan dinilai lebih mencerminkan tekanan arus dana atau flow event, bukan memburuknya fundamental bank.
Sukadana Prima membagi saham perbankan pilihannya ke dalam tiga kelompok.
Kelompok pertama adalah anchor holding yang terdiri dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BBRI, dan BMRI. Ketiganya dinilai memiliki risiko relatif rendah, likuiditas tinggi, serta menjadi penggerak utama IHSG.
Kelompok kedua merupakan saham diversifikasi, yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Ketiganya menawarkan karakteristik berbeda melalui model bisnis syariah, dukungan grup regional, serta profil bank menengah yang relatif konservatif.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) masuk dalam kategori saham dengan beta lebih tinggi. Keduanya memiliki tesis investasi yang lebih spesifik, terutama terkait kebijakan perumahan dan bisnis ultra mikro.