sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pasar Cermati Geopolitik, Harga Minyak Berpeluang Lanjutkan Reli

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
23/02/2026 06:55 WIB
Harga minyak Brent naik pada akhir perdagangan Jumat (20/2/2026) akibat aksi short-covering di pasar energi global.
Pasar Cermati Geopolitik, Harga Minyak Berpeluang Lanjutkan Reli. (Foto: Freepik)
Pasar Cermati Geopolitik, Harga Minyak Berpeluang Lanjutkan Reli. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Harga minyak Brent naik pada akhir perdagangan Jumat (20/2/2026) akibat aksi short-covering di pasar energi global.

Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran investor atas potensi aksi militer Amerika Serikat (AS), seiring Presiden Donald Trump terus menekan Republik Islam Iran agar menghentikan pengembangan senjata nuklir.

Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik 0,14 persen ke USD71,76 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir turun 0,06 persen ke USD66,39 per barel.

Sepanjang sebagian besar sesi, Brent dan WTI bergerak di zona merah, dengan pelaku pasar menanti perkembangan ketegangan antara AS dan Iran.

Secara sepekan, Brent dan WTI sama-sama melonjak lebih dari 5 persen.

“Kita terjebak di antara antisipasi soal apa yang akan terjadi antara AS dan Iran dan penyangkalan bahwa serangan benar-benar akan terjadi,” ujar Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip dari Reuters.

Prospek Sepekan

Harga minyak dunia diproyeksikan bergerak volatil pada pekan ini seiring meningkatnya tensi geopolitik antara Donald Trump dan Iran, serta tenggat 10-15 hari yang disebut dapat memicu “hal-hal sangat buruk” bila kesepakatan tak tercapai.

Analis FX Empire, James Hyerczyk, menilai pasar kini berada dalam fase wait and see, namun kondisi tersebut justru berpotensi menjadi pemicu lonjakan volatilitas.

Ketidakpastian membuat pelaku pasar menutup posisi short secara agresif dan spekulan bullish mulai masuk, mendorong harga sempat reli di tengah pekan.

Risiko kian meningkat setelah laporan bahwa Iran akan menggelar latihan militer laut bersama Rusia di kawasan tersebut.

Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas hingga menutup Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Menurut Hyerczyk, jika terjadi gangguan distribusi di jalur tersebut, harga minyak mentah berpeluang melonjak tambahan 10-15 persen, di atas kenaikan sekitar 20 persen yang telah terjadi sejak pertengahan Desember.

Dari sisi fundamental, harga juga ditopang penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) sebesar 9 juta barel.

U.S. Energy Information Administration (EIA) menyebut penurunan itu dipicu peningkatan utilisasi kilang dan ekspor.

Secara teknikal, tren harga masih berada dalam jalur naik. Untuk kontrak April WTI, penembusan di atas level USD67,03 berpotensi membuka ruang kenaikan menuju area resistance USD68,11 hingga USD69,37.

Namun, jika terjadi tekanan turun, pasar akan menguji area support di kisaran USD64,30. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement