IDXChannel – Pelaku pasar tengah menanti pengumuman indeks global MSCI terkait potensi perubahan metodologi perhitungan free float emiten-emiten Indonesia yang dijadwalkan pada akhir Januari 2026.
Antisipasi terhadap kebijakan ini ditengarai ikut memicu aksi ambil untung pada saham-saham konglomerasi dalam dua hari terakhir.
Ashmore Indonesia menilai sebagian pelaku pasar mulai bersikap lebih berhati-hati menjelang pengumuman tersebut. “Sebagian investor diperkirakan melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman free float MSCI pada bulan ini,” kata Ashmore, Senin (13/1/2026).
Tekanan jual tersebut tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada Senin (13/1), IHSG ditutup melemah 0,58 persen, terimbas penurunan saham-saham konglomerasi.
Bahkan, indeks sempat merosot tajam hingga 2,48 persen pada rentang 14.25-14.30 WIB, sebelum berbalik pulih cepat dan memangkas pelemahan hanya dalam waktu 3-5 menit berikutnya.
Memasuki Selasa (14/1), IHSG kembali menunjukkan pemulihan. Indeks ditutup menguat 0,72 persen ke level 8.948,30, meskipun sempat mengalami turbulensi di tengah aksi jual saham-saham konglomerasi, termasuk dari Grup Bakrie.
Rebound IHSG kali ini sebagian ditopang oleh lonjakan mendadak sejumlah saham milik taipan Prajogo Pangestu di penghujung sesi perdagangan.
Saham BREN, misalnya, berbalik naik 2,22 persen, sementara TPIA menguat 3,08 persen. Kedua emiten tersebut tercatat masuk dalam lima besar saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI),
Di tengah dinamika tersebut, pengamat pasar modal Michael Yeoh mengingatkan investor untuk mencermati secara saksama potensi perubahan metodologi free float MSCI yang akan segera difinalkan.
“Kita perlu sedikit aware dengan metodologi MSCI free float yang akan difinalkan pada 30 Januari,” ujarnya, Selasa (13/1).
Dia menjelaskan, jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, dampaknya bisa cukup signifikan terhadap pergerakan pasar domestik. “Jika itu diimplementasi, maka akan ada outflow yang ckup besar di IHSG,” katanya.
Meski demikian, Michael menilai kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan oleh investor. “Karena harga itu merupakan koreksi teknis, bukan dari sisi fundamental,” imbuh dia.
Kandidat MSCI
Dalam rebalancing Februari 2026, dua emiten yang terafiliasi dengan konglomerasi mencuat sebagai kandidat kuat untuk masuk indeks MSCI Standard Cap.
Keduanya adalah emiten batu bara milik Grup Bakrie-Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), serta PT Petrosea Tbk (PTRO) yang berada di bawah Grup Barito milik Prajogo.
Indo Premier menempatkan BUMI sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk MSCI Standard Cap, disusul oleh PTRO. Saat ini, kedua saham tersebut telah tercatat sebagai konstituen MSCI IMI (Investable Market Index) dan MSCI Small Cap Index.
Pandangan serupa juga disampaikan Trimegah Sekuritas, yang menjagokan BUMI dan PTRO dalam rebalancing MSCI terdekat.
Sementara itu, CLSA Sekuritas memprediksi komposisi MSCI Indonesia Standard Cap akan diisi oleh BUMI dan PT MD Entertainment Tbk (FILM).
Otak-Atik Perhitungan Free Float
Pada 27 Oktober 2025, MSCI mengumumkan pihaknya menjajaki penggunaan laporan Monthly Holding Composition milik Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung porsi free float saham emiten Indonesia.
Rencana tersebut kemudian dilakukan dengan mempertimbangkan masukan dari para pelaku pasar.
Pada saat itu, saham-saham konglomerasi besar, terutama milik taipan Prajogo Pangestu, sontak terpuruk dan menjadi penekan utama IHSG. Indeks kala itu ditutup melemah 1,87 persen, setelah sempat tergelincir hingga 3,78 persen di tengah sesi perdagangan.
Pengumuman MSCI tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa perubahan metodologi dapat menurunkan bobot sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam indeks MSCI.
Mengutip penjelasan Stockbit Sekuritas, selama ini Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya mewajibkan emiten melaporkan pemegang saham dengan kepemilikan minimal 5 persen.
Sementara itu, data KSEI mencakup kepemilikan di bawah 5 persen serta klasifikasi pemegang saham, sehingga dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai struktur kepemilikan saham.
Dalam usulannya, MSCI berencana menentukan estimasi free float berdasarkan nilai terendah antara hasil perhitungan yang mengikuti metodologi MSCI dan estimasi yang menggunakan data KSEI.
Dalam estimasi berbasis KSEI, saham script serta kepemilikan oleh korporasi dan kategori ‘others’ (lokal maupun asing) akan diklasifikasikan sebagai non-free float.
Sebagai alternatif, MSCI mengusulkan estimasi free float berdasarkan data KSEI, yaitu dengan mengklasifikasikan saham script dan kepemilikan 'korporasi' (tanpa menghitung ‘others’) sebagai non-free float.
MSCI telah menutup masukan dari publik pada 31 Desember 2025 dan akan mengumumkan hasil konsultasi sebelum 30 Januari 2026. Jika disetujui, perubahan metodologi tersebut akan diterapkan pada index review Mei 2026. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.