Menurut CGSI, afirmasi S&P juga membuka peluang biaya pendanaan pemerintah dan korporasi mulai mencapai puncaknya.
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang relatif tinggi dibandingkan negara berkembang lain dinilai berpotensi kembali menarik arus modal asing, sehingga memberikan dukungan bagi rupiah dan mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Indonesia.
Di samping afirmasi S&P, CGSI juga menilai implementasi PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berlangsung lebih moderat dibandingkan kekhawatiran awal investor.
Menurut mereka, Danantara berulang kali menegaskan tetap menghormati kontrak komersial yang telah ditandatangani dengan pembeli global.
Pada masa transisi semester II-2026, DSI disebut lebih berperan sebagai fasilitator dan pelacak digital dibanding mengubah hubungan dagang yang telah ada.