Sementara itu, di Kamojang, PGEO bersama petani sejak 2018 mengembangkan Geothermal Dry House yang memanfaatkan uap buangan dari steam trap panas bumi. Teknologi ini menjadi sumber panas alternatif untuk mempercepat pengeringan kopi secara efisien dan ramah lingkungan.
Rangkaian inovasi ini membuktikan manfaat panas bumi dapat berkontribusi positif dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
Ahmad menyampaikan, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini juga memiliki makna khusus bagi industri panas bumi nasional yang akan memasuki satu abad, menandai perjalanan panjang pemanfaatan panas bumi di Indonesia. Bagi PGEO, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh sekaligus melanjutkannya dengan langkah-langkah pengembangan kapasitas ke depan.
Selain menjaga keandalan operasi, PGEO juga terus mengembangkan kapasitas terpasangnya untuk menghadirkan lebih banyak energi bersih dan andal bagi masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.
Sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7–8 & Binary Unit di Sulawesi Utara, dan proyek Gunung Tiga di Lampung.