Dari sisi kinerja operasional, analis memperkirakan bisnis mobilitas menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 akibat pelemahan ekonomi, harga minyak yang tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Namun, bisnis fintech diperkirakan masih relatif bertahan.
"Risiko utama yang perlu diperhatikan adalah apabila perlambatan ekonomi semakin memburuk dan akhirnya memengaruhi bisnis fintech. Karena itu, menjaga kualitas aset menjadi penting," tulis analis.
Meski demikian, kemampuan GoTo dalam mengelola risiko berbasis data dinilai dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan tersebut.
Tekanan terhadap saham GOTO sendiri masih berlanjut setelah perusahaan mencatatkan laba bersih kuartalan pertama kalinya pada kuartal I-2026.
Kabar tersebut langsung tertutup oleh kekhawatiran pasar terkait arahan pembatasan komisi maksimal 8 persen.