AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

PPKM Diperpanjang hingga 1 November 2021, Simak Prospek Saham Sektor Ritel

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Selasa, 19 Oktober 2021 07:47 WIB
Pelonggaran ini harus sejalan dengan tingkat daya beli masyarakat mengingat hal tersebut mencerminkan kondisi pengeluaran konsumen.
PPKM Diperpanjang hingga 1 November 2021, Simak Prospek Saham Sektor Ritel (FOTO:MNC Media)
PPKM Diperpanjang hingga 1 November 2021, Simak Prospek Saham Sektor Ritel (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali diperpanjang hingga 1 November 2021. 

Adapun dilakukan sejumlah pelonggaran, seperti penambahan kapasitas bioskop menjadi 70 persen dan diperbolehkannya anak usia di bawah 12 tahun masuk tempat wisata. 

Pelonggaran pembatasan secara otomatis memberikan pengaruh terhadap pergerakan sejumlah emiten di sektor ritel pasar modal Indonesia menjelang laporan keuangan perusahaan pada akhir tahun. 

Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada menilai pelonggaran ini harus sejalan dengan tingkat daya beli masyarakat mengingat hal tersebut mencerminkan kondisi pengeluaran konsumen. 

"Mau PPKM longgar atau tidak kalau daya beli masyarakat bisa terjaga maka persepsinya akan positif. Lagipula, selama PPKM, katakanlah orang tidak keluar rumah tetapi masih bisa belanja secara online/daring," kata Reza kepada MNC Portal, Selasa (19/10/2021). 

Reza membaca pergerakan sektor ritel di pasar modal juga dipengaruhi oleh sejumlah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingkat konsumsi masyarakat. Menurutnya, hal ini diasumsikan dapat berimbas pada pendapatan emiten-emiten ritel. 

"Untuk emiten-emiten ritel, sebenarnya itu akan tergantung dari minat dan daya beli masyarakat. Biasanya BPS atau lembaga-lembaga riset tertentu suka keluarkan hasil survei konsumsi masyarakat. Nah, ini akan menjadi penilaian pelaku pasar bagaimana daya beli di masyarakat dan bagaimana pengeluaran masyarakat, untuk apa aja," lanjutnya. 

Belakangan ini Kepala BPS Margo Yuwono merinci ada kenaikan upah riil dari buruh yang didorong oleh indeks konsumsi rumah tangga yang mengalami deflasi pada September 2021. 

"Kalau untuk belanja maka bisa dinilai konsumsi dan daya beli masyakarat dinilai membaik. Dan itu akan diasumsikan dapat berimbas pada pendapatan emiten-emiten ritel," terangnya, sembari menambahkan bahwa investor perlu mencermati emiten ritel mana yang unggul dalam digitalisasi produk mereka. 

"Nah, justru di sini nanti akan terlihat ritel-ritel yang mana aja yang dapat bertahan, baik dia sedang build-up platform belanja digitalnya atau sudah masuk dalam ekosistem platform digital yang ada," tambahnya. 

Kepada investor, dirinya merekomendasikan untuk mencermati sejumlah emiten seperti RALS, MAPI, LPPF, dan ACES.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD