Selain itu, dengan menempatkan aktivitas investasi sebagai sarana agar cepat kaya, maka investor Indonesia juga kerap terjebak dengan pada skema trading harian, dengan tingkat spekulasi yang relatif tinggi.
Belum lagi, iming-iming keuntungan berlipat dengan waktu yang relatif cepat dari para pelaku investasi ilegal dan investasi bodong, seringkali terlihat menggiurkan, meski pada dasarnya sudah terlihat sangat tidak logis.
Karenanya, berbekal penilaian tersebut, Vier menilai bahwa program edukasi dan peningkatan literasi masih menjadi kebutuhan mendesak bagi industri investasi di Indonesia, di tengah keterlibatan generasi muda yang terus berkembang.
"Karena faktanya, meski investor muda terus bertumbuh, namun tingkat literasi kita masih jauh lebih rendah dibanding investor di negara-negara maju. Ini yang harus kita kejar. Jadi, untuk kuantitas keterlibatan (masyarakat/generasi muda) kita sudah ada kemajuan, tapi soal kualitas (literasi) ini jangan juga sampai terlupakan," ujar Vier.
(taufan sukma)