Vier menjelaskan bahwa mayoritas investor di negara-negara maju bukan lagi menempatkan aktivitas berinvestasi sebagai sebuah pilihan, melainkan sudah sebagai kebutuhan hidup yang memang harus dipenuhi.
Konsekuensi logis dari sudut pandang itu, menurut Vier, adalah kesanggupan investor luar negeri untuk menempatkan dana investasinya dalam jangka panjang, untuk kemudian fokus pada pertumbuhan aset dan kekayaan dalam periode 10 hingga 30 tahun ke depan.
Karenanya, riak-riak kecil dalam berinvestasi yang terjadi secara temporer, misalnya saja terkait potensi return jangka pendek atau justru tren pelemahan sesaat, tidak akan menjadi concern yang menentukan bagi investor global.
Sementara, mayoritas investor Indonesia dalam pandangan Vier masih menempatkan investasi sebagai tools untuk mempercepat capaian kekayaan, sehingga yang menjadi concern lebih pada keuntungan jangka pendek.
"Sebaliknya, penurunan kecil saja dalam jangka pendek, sudah membuat panik, karena orientasinya hanya jangka pendek. Risikonya, karena panik, kita justru tidak sabar untuk menjual (saham) saat harga masih turun, dan asal beli justru saat harga masih tinggi," ujar Vier.