sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Program B50 Prabowo Diproyeksi Dongkrak Permintaan CPO, CIMB Kerek Target Harga

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
31/03/2026 14:58 WIB
Rencana Indonesia menggulirkan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi sentimen positif bagi harga dan permintaan crude palm oil (CPO).
Program B50 Prabowo Diproyeksi Dongkrak Permintaan CPO, CIMB Kerek Target Harga. (Foto: Freepik)
Program B50 Prabowo Diproyeksi Dongkrak Permintaan CPO, CIMB Kerek Target Harga. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Rencana Indonesia menggulirkan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi sentimen positif bagi harga dan permintaan crude palm oil (CPO), seiring potensi lonjakan kebutuhan domestik dalam beberapa tahun ke depan.

Analis CIMB Securities Ivy Ng Lee Fang mengatakan, dikutip Dow Jones Newswires, Selasa (31/3/2026), kebijakan campuran biodiesel 50 persen berbasis sawit berpotensi menambah permintaan hingga 4 juta ton per tahun dan memperketat pasokan ekspor, meski detail implementasinya masih belum sepenuhnya jelas.

Sebagai informasi, saat ini Indonesia masih menerapkan program B40.

Menurut dia, kenaikan harga CPO akan menguntungkan perusahaan perkebunan di sektor hulu, meski dampaknya bisa sedikit teredam oleh kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk.

CIMB juga menaikkan proyeksi harga rata-rata CPO, yakni menjadi 4.400 ringgit Malaysia per ton untuk 2026 dari sebelumnya 4.000 ringgit per ton, serta 4.500 ringgit per ton untuk 2027 dari 4.200 ringgit per ton.

Di sisi pasar, kontrak berjangka (futures) minyak sawit Malaysia melemah pada perdagangan Selasa (31/3) setelah menguat selama tiga hari beruntun, mengikuti pelemahan minyak nabati pesaing.

Kontrak acuan pengiriman Juni di Bursa Malaysia turun 0,69 persen ke 4.739 ringgit per ton pada jeda perdagangan siang.

Meski turun, kontrak tersebut masih mencatat kenaikan 18,75 persen sepanjang Maret dan berpeluang mencetak kenaikan bulanan terbesar sejak April 2022.

Seorang trader di Kuala Lumpur menyebut, seperti dikutip Reuters, harga CPO terkoreksi seiring pelemahan minyak nabati pesaing pada perdagangan Asia.

Minyak kedelai Dalian melemah, sementara minyak sawit Dalian menguat tipis dan minyak kedelai Chicago juga terkoreksi.

Pergerakan CPO umumnya mengikuti minyak nabati pesaing karena bersaing dalam pasar minyak nabati global.

Sementara itu, pelemahan ringgit terhadap dolar AS membuat harga CPO relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan resmi ke Jepang menyatakan Indonesia akan tetap melanjutkan program biodiesel B50 berbasis minyak sawit pada tahun ini, mempertegas komitmen pemerintah mendorong hilirisasi energi berbasis sawit. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement