Teheran tampaknya berharap tekanan dari komunitas internasional akan meningkat terhadap AS, karena lonjakan harga energi dapat merugikan ekonomi global.
Sementara itu, operasi militer terhadap Iran oleh AS dan Israel masih terus berlangsung. Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, mengatakan pemerintah memiliki berbagai instrumen untuk mengatasi kenaikan harga minyak dan menilai masalah tersebut dapat diselesaikan relatif cepat.
Namun, pelaku pasar tampaknya belum yakin gangguan ekspor minyak dari Timur Tengah dapat diatasi dalam waktu dekat.
Secara teknikal, minyak WTI saat ini mencoba menembus area resistance di kisaran USD90,00-USD90,50 per barel. Jika berhasil bertahan di atas level tersebut, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran USD94,50-USD95,00.
Sementara itu, minyak mentah Brent dengan mudah melampaui level psikologis USD90,00 dan kini berupaya bertahan di atas resistance USD91,50-USD92,00. Jika tembus, harga Brent berpotensi naik menuju area USD97,00-USD97,50 per barel.