IDXChannel - PT Argo Pantes Tbk (ARGO) menyatakan eksposur utang dalam mata uang dolar Amerika Serikat (USD) senilai USD38 juta tidak memberikan tekanan signifikan terhadap arus kas perusahaan meski saat ini terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.
Direktur Argo Pantes Humprey menjelaskan, sekitar 80 persen dari total utang tersebut merupakan obligasi subordinasi tanpa kupon (subordinated zero coupon bond) yang berasal dari sisa kewajiban bisnis tekstil perseroan pada masa lalu.
"Memang kita masih punya utang US dollar sekitar USD38 juta. Namun dampak dari pelemahan kurs itu hanya pembukuan, tidak ada cash flow keluar yang signifikan dari perusahaan," ujar Humprey dalam acara Public Expose Live 2026, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, karena tidak memiliki kewajiban pembayaran bunga secara berkala, instrumen tersebut dinilai tidak membebani likuiditas perusahaan dalam jangka pendek. Selain itu, jatuh tempo utang tersebut masih relatif panjang yakni pada 2031.
"Itu adalah utang obligasi subordinasi atau subordinated zero coupon bond. Artinya kami tidak ada kewajiban pembayaran bunga dan utang ini baru akan jatuh tempo di tahun 2031," kata dia.
Sehingga, pelemahan kurs yang saat ini terjadi dan dampaknya terhadap kewajiban pelunasan utang dalam bentuk dolar AS itu hanya ada di pembukuan, tapi tidak ada cash flow keluar yang signifikan dari perusahaan.
Lebih lanjut, kata Humprey, perseroan menilai kondisi pelemahan rupiah dan kewajiban pelunasan utang dolar AS, masih terdapat cukup waktu untuk melakukan mitigasi risiko karena baru jatuh tempo pada 2031. Perseroan saat ini fokus pada pengembangan bisnis pergudangan dan logistik yang kini menjadi sumber pertumbuhan utama perseroan.
Pada 2025, bisnis sewa gudang telah berkontribusi hampir 70 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Pendapatan dari segmen tersebut mencapai sekitar Rp77 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp36 miliar pada 2022.
Seiring transformasi bisnis yang terus berjalan, Argo Pantes juga tengah menjalankan sejumlah proyek pengembangan fasilitas pergudangan, termasuk pembangunan gudang untuk J&T Cargo di kawasan Cikokol, Tangerang.
Meski demikian, Humprey mengakui risiko nilai tukar tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan perusahaan. Untuk itu, manajemen saat ini tengah mengkaji berbagai alternatif langkah strategis guna menata struktur kewajiban dalam mata uang asing tersebut.
"Kami sudah berdiskusi dengan beberapa pihak dan sedang mengkaji sejumlah alternatif action plan terkait bagaimana memitigasi risiko ini. Karena jatuh temponya masih 2031, kami memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan langkah yang tepat," ujarnya.
Selain posisi utang yang relatif terkendali, perseroan juga mencatat perbaikan kondisi keuangan sepanjang 2025. Ekuitas perusahaan meningkat sekitar 58 persen atau bertambah Rp66 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh perbaikan kinerja operasional dan penataan sejumlah akun warisan bisnis lama.
Manajemen meyakini penguatan bisnis pergudangan, peningkatan tingkat okupansi, serta kontrak sewa jangka panjang yang sedang dijalankan akan semakin memperkuat fundamental keuangan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
(Dhera Arizona)