Di sisi lain, konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon Selatan masih menjadi faktor yang membayangi proses perdamaian, setelah Teheran meminta agar Lebanon turut dimasukkan dalam setiap kesepakatan damai.
Sentimen lain datang dari pejabat Federal Reserve (The Fed) yang masih bernada hawkish. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga pada 2026 karena tekanan inflasi dinilai masih tinggi.
Senada, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Fed New York John Williams menilai inflasi belum sepenuhnya terkendali sehingga kebijakan moneter ketat masih diperlukan.
Sementara itu, data ekonomi AS turut memberikan dukungan bagi dolar AS. Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan periode Juni naik menjadi 49,5 dari sebelumnya 48,9, melampaui ekspektasi pasar. Ekspektasi inflasi satu tahun tetap di level 4,6 persen, sedangkan ekspektasi lima tahun turun menjadi 3,3 persen dari 3,4 persen.
Dari dalam negeri, pelaku pasar masih menantikan rilis data neraca perdagangan dan inflasi Indonesia pada awal Juli sebagai petunjuk kondisi ekonomi domestik dan arah pergerakan rupiah.