IDXChannel - Nilai tukar rupiah melemah 12 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp16.798 per USD pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026).
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump dikabarkan menominasikan mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon Ketua The Fed menggantikan Jerome Powell.
Menurut Ibrahim, Warsh selama ini dipersepsikan sejalan dengan dorongan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif.
Namun di sisi lain, Warsh dikenal kritis terhadap kebijakan pembelian aset oleh bank sentral AS. Hal ini mengindikasikan bahwa arah kebijakan moneter jangka panjang The Fed di bawah kepemimpinannya belum tentu akan lebih longgar seperti yang semula diantisipasi pasar.
“Warsh memang dianggap mendukung penurunan suku bunga secara tajam, tetapi sikap kritisnya terhadap program pembelian aset The Fed menunjukkan kebijakan moneter ke depan bisa jadi tidak selunak ekspektasi awal pasar,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (2/2/2026).
Dari kawasan Asia, sentimen datang dari Jepang. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pidato kampanye terbarunya sempat menyinggung manfaat pelemahan mata uang bagi sektor ekspor. Pernyataan tersebut dinilai berseberangan dengan sikap pemerintah Jepang yang sebelumnya memperingatkan risiko pelemahan yen yang berkepanjangan.
Takaichi menyebut yen yang lebih lemah dapat menguntungkan eksportir, meski kemudian terlihat melunakkan pernyataannya. Sejumlah pejabat Jepang, termasuk Takaichi sendiri, juga telah mengingatkan pasar agar tidak mendorong pergerakan yen secara berlebihan, sehingga memunculkan spekulasi potensi intervensi pemerintah dalam waktu dekat.
Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari-Desember 2025 mencatat surplus sebesar USD41,05 miliar. Capaian ini meningkat dibandingkan surplus tahun 2024 yang tercatat sebesar USD31,04 miliar.
Surplus tersebut ditopang kinerja ekspor yang mencapai USD282,21 miliar sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan impor kumulatif sebesar USD241,86 miliar. Dari sisi komoditas, surplus terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar USD60,75 miliar, sementara neraca migas masih mencatat defisit USD19,70 miliar.
BPS juga melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat naik dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,93 persen dengan andil 1,72 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar berasal dari tarif listrik, disusul emas dan perhiasan.
Meski secara tahunan mencatat inflasi, BPS melaporkan bahwa inflasi bulanan Januari 2026 justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Perbedaan arah antara inflasi bulanan dan tahunan ini dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect).
Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan tarif listrik yang menekan IHK, sehingga inflasi pada periode tersebut relatif rendah. Kondisi ini membuat inflasi tahunan Januari 2026 tampak lebih tinggi secara yoy.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per USD.
(DESI ANGRIANI)