“Warsh memang dianggap mendukung penurunan suku bunga secara tajam, tetapi sikap kritisnya terhadap program pembelian aset The Fed menunjukkan kebijakan moneter ke depan bisa jadi tidak selunak ekspektasi awal pasar,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (2/2/2026).
Dari kawasan Asia, sentimen datang dari Jepang. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pidato kampanye terbarunya sempat menyinggung manfaat pelemahan mata uang bagi sektor ekspor. Pernyataan tersebut dinilai berseberangan dengan sikap pemerintah Jepang yang sebelumnya memperingatkan risiko pelemahan yen yang berkepanjangan.
Takaichi menyebut yen yang lebih lemah dapat menguntungkan eksportir, meski kemudian terlihat melunakkan pernyataannya. Sejumlah pejabat Jepang, termasuk Takaichi sendiri, juga telah mengingatkan pasar agar tidak mendorong pergerakan yen secara berlebihan, sehingga memunculkan spekulasi potensi intervensi pemerintah dalam waktu dekat.
Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari-Desember 2025 mencatat surplus sebesar USD41,05 miliar. Capaian ini meningkat dibandingkan surplus tahun 2024 yang tercatat sebesar USD31,04 miliar.
Surplus tersebut ditopang kinerja ekspor yang mencapai USD282,21 miliar sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan impor kumulatif sebesar USD241,86 miliar. Dari sisi komoditas, surplus terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar USD60,75 miliar, sementara neraca migas masih mencatat defisit USD19,70 miliar.