BPS juga melaporkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat naik dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,93 persen dengan andil 1,72 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar berasal dari tarif listrik, disusul emas dan perhiasan.
Meski secara tahunan mencatat inflasi, BPS melaporkan bahwa inflasi bulanan Januari 2026 justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Perbedaan arah antara inflasi bulanan dan tahunan ini dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect).
Pada Januari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan tarif listrik yang menekan IHK, sehingga inflasi pada periode tersebut relatif rendah. Kondisi ini membuat inflasi tahunan Januari 2026 tampak lebih tinggi secara yoy.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya di kisaran Rp16.790 hingga Rp16.830 per USD.
(DESI ANGRIANI)