Menurut Ibrahim, setidaknya terdapat tiga faktor domestik utama yang menjadi motor penggerak sentimen positif bagi keandalan nilai tukar rupiah di awal perdagangan pekan ini. Faktor pendorong pertama bersumber dari komitmen efisiensi anggaran belanja negara, khususnya pada pos program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang alokasi anggarannya dipangkas signifikan dari semula Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.
Pemotongan dana segar sebesar Rp50 triliun tersebut dipandang positif oleh pasar sebagai langkah nyata dalam mempertebal kesehatan keuangan negara di tengah defisit anggaran yang berada di kisaran 2,68 persen.
"Pertama, tentang program unggulan MBG. Ini juga disunat anggarannya, dipotong anggarannya, itu dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Artinya apa? Ada pemotongan sebesar Rp50 triliun, tujuannya apa? Untuk memperkuat kondisi keuangan negara. Karena kita lihat bahwa deposit anggaran sudah di atas 6,2,68 persen," kata Ibrahim.
Faktor kedua yang turut mengunci apresiasi rupiah adalah keseriusan Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan restrukturisasi total dan konsolidasi korporasi pada tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang tahun berjalan ini.
Kebijakan radikal ini memproyeksikan perampingan struktur di mana dari total hampir seribu entitas perusahaan negara yang ada saat ini, bakal dipangkas secara masif hingga menyisakan sekitar 250 perusahaan inti saja. Langkah perampingan klaster BUMN ini dinilai efektif memotong kebocoran biaya operasional tinggi yang membebani pos APBN.