Apresiasi mata uang kawasan dipicu oleh meningkatnya tekanan terhadap greenback pascarilis data lowongan kerja Amerika Serikat (Job Openings and Labor Turnover Survey/JOLTS) yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Di samping itu, sentimen risiko global terpantau membaik berkat adanya laporan terkait kemajuan kesepakatan antara AS dan Iran, yang memicu optimisme akan dibukanya kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa melemahnya indeks dolar AS akibat rilis data tenaga kerja serta meredanya tensi di Selat Hormuz menjadi pendorong utama pergerakan positif rupiah.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan oleh data JOLTS AS yang lebih lemah dari perkiraan dan optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan," ujar Lukman dalam risetnya.
Meski demikian, Lukman menilai laju kenaikan rupiah masih berpotensi tertahan mengingat para investor cenderung berhati-hati menunggu rilis data PDB kuartal II-2026 yang dijadwalkan diumumkan pemerintah pada siang hari.