IDXChannel - Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026). Mata uang Garuda tercatat turun 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per USD.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkap faktor-faktor yang masih membayangi pelemahan rupiah.
Aktivitas manufaktur Indonesia yang masuk ke zona ekspansi belum mampu mengangkat rupiah.
“Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026. Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Laporan S&P Global mencatat posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari.