sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.877 per USD, Ini Sederet Sentimennya

Market news editor Nia Deviyana
13/01/2026 16:07 WIB
Sentimen pasar terguncang nvestigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.877 per USD, Ini Sederet Sentimennya. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.877 per USD, Ini Sederet Sentimennya. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa ditutup melemah ke Rp16.877 per USD, turun 22 poin atau 0,13 persen. Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah didorong sentimen eksternal maupun internal. 

Dari eksternal, Ibrahim menilai, sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS), di mana jaksa telah meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell. Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS.

Ketua Jerome Powell pada Minggu malam mengatakan dalam pernyataan video bahwa tindakan Departemen Kehakiman (DOJ) bermotivasi politik. 

"Powell mengatakan masalahnya adalah apakah Fed dapat terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi atau apakah kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan atau intimidasi politik," tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (13/1/2026).

Dari geopolitik, Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran. Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Iran, sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi. 

Sebuah laporan Reuters mengatakan Trump diperkirakan bertemu dengan penasihat senior pada hari Selasa untuk membahas opsi terkait Iran.

Selain itu, infrastruktur ekspor minyak Rusia telah berulang kali diserang di tengah konflik Ukraina yang berkepanjangan. Pasukan Ukraina telah menyerang fasilitas minyak dan pusat ekspor Rusia, termasuk terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di dekat Novorossiysk.

Dari internal, Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana di bank sebesar Rp75 triliun dinilai tidak akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan. 

Penarikan dana tersebut tidak berisiko mengganggu penyaluran kredit perbankan karena kondisi likuiditas saat ini masih berada pada level aman. 

Masih terjaganya likuiditas perbankan terlihat dari masih tingginya nilai kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan atau undisbursed loan, yakni sebesar Rp2.509 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia per November 2025. 

Persoalan utama perbankan saat ini bukan berada di sisi likuiditas atau supply side, melainkan pada lemahnya permintaan kredit atau demand side. 

Hal ini tecermin dari pertumbuhan kredit yang masih lemah meski Purbaya telah menempatkan dana pemerintah dengan total nilai Rp276 triliun di perbankan sejak September 2025. 

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan hingga November 2025 hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan. Angka tersebut berada di bawah proyeksi BI yang mematok pertumbuhan kredit 8-11 persen sepanjang 2025. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank kurang efektif untuk mendorong peningkatan permintaan kredit sehingga efeknya ke ekonomi pun tidak signifikan.

Pemerintah bersama BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mencari terobosan guna mengerek permintaan kredit. Salah satunya melalui peningkatan belanja pemerintah agar aktivitas ekonomi bergerak lebih agresif. 

Selain itu, stimulus fiskal berupa pengurangan pajak bagi dunia usaha juga dinilai penting agar pelaku usaha lebih bergairah melakukan ekspansi, bukan sekadar bersikap wait and see.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement