“Para pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC bulan Juli yang akan dirilis hari Rabu untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, harga minyak mentah yang berada di atas USD83 per barel turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi.
Tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor minyak mentah di pasar global berpotensi meningkatkan permintaan terhadap mata uang Paman Sam sekaligus menekan nilai tukar rupiah.
Sentimen domestik lainnya berasal dari perkembangan utang luar negeri (ULN) Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai USD453,4 miliar atau sekitar Rp8.089,1 triliun.
Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan ULN pada Mei 2026 yang mencapai USD444,4 miliar atau sekitar Rp7.928,5 triliun.