sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.027 per USD Jelang Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi

Market news editor Anggie Ariesta
04/08/2026 15:38 WIB
Mata uang Garuda melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.027 per USD.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.027 per USD Jelang Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi. Foto: iNews Media Group.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.027 per USD Jelang Rilis Data Pertumbuhan Ekonomi. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Mata uang Garuda melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.027 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen dari dalam negeri memengaruhi pergerakan rupiah hari ini, di mana sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit USD450 juta. 

“Defisit pada Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, yaitu defisit sebesar USD3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah. Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat USD25,46 miliar lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar USD25,91 miliar per Juni 2026,” tulis Ibrahim dalam risetnya. 

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun ke level USD145 miliar. Turunnya cadangan devisa disebabkan oleh keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Ini artinya cadangan devisa RI telah turun hingga mencapai USD11 miliar. Namun, level USD145 miliar dinilai masih aman dan mencukupi untuk kebutuhan 5,4 kali impor. Sementara itu, batasan yang menjadi benchmark internasional adalah kecukupan cadangan devisa untuk 3 bulan impor dan pembayaran utang.

Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua pada Rabu (5/8/2026), mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 akan melambat, diperkirakan berada di bawah 5,6 persen namun tidak jauh dari 5,4 persen.

Perlambatan ekonomi disebabkan oleh tekanan eksternal seperti harga minyak mentah yang tinggi, eskalasi geopolitik, dan capital outflow dari pasar keuangan domestik. Pemerintah berencana mengeluarkan paket stimulus baru, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di semester II-2026.

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan penundaan serangan baru terhadap Iran sembari menunggu perundingan yang sedang berlangsung. Namun, pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menepis klaim Trump tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS maupun pertemuan yang dijadwalkan.

Selain itu, Iran mengancam akan menargetkan kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) yang mencoba mengubah koridor pelayaran yang ditetapkan Teheran di Selat Hormuz. Ancaman ini menandai memanasnya kembali konflik antara kedua negara. Iran mengumumkan mereka akan menargetkan kapal perang AS mana pun yang mencoba memaksakan rute yang berbeda dari yang telah diizinkan Teheran untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pengumuman ini disampaikan Mayor Jenderal Mohsen Rezaee, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Di Laut Merah, enam kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi baru-baru ini mengubah haluan di Teluk Aden dan bergerak menuju Afrika bagian selatan, sementara dua kapal tanker yang memuat minyak Arab Saudi melintasi Selat Bab el-Mandeb, menurut data pelayaran pada Senin. Data tersebut juga menunjukkan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, melambat menyusul laporan mengenai serangan terhadap kapal-kapal.

Sementara dari segi data ekonomi, Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) AS pada Juli meningkat dari 53,3 menjadi 55,6, melampaui perkiraan 54. Laporan tersebut menunjukkan permintaan yang berkelanjutan, kejelasan tentang tarif, dan hilangnya gangguan pasokan terkait Perang Teluk, yang meningkatkan permintaan di pasar kerja. 

Fokus pasar hari ini adalah oleh laporan Lowongan Kerja JOLTS yang akan dirilis nanti malam pukul 21.00 WIB, dengan fokus pasar minggu ini adalah Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian (NFP) yang akan dirilis pada Jumat.

Berdasarkan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun diperirakan melemah pada rentang Rp18.030- Rp18.080 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement