“Selain itu, risalah rapat Fed bulan Juni menunjukkan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi, yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Inflasi AS telah meningkat tajam sejak dimulainya perang AS-Iran pada akhir Februari, dengan pertumbuhan harga tetap jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memenuhi target tersebut selama pidato baru-baru ini.
Dari domestik, Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar, di mana APBN Tahun 2026 tetap dirancang untuk menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional, yaitu penguatan ketahanan pangan, penguatan ketahanan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kemudian, peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan program layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sistem pertahanan semesta, dan percepatan investasi serta peningkatan perdagangan global. APBN juga tetap menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Koreksi ini terlihat dari tren pelemahan indeks utama maupun seluruh komponen penyusunnya yang kompak bergerak melandai menjelang penutupan semester pertama tahun ini.