Selain isu geopolitik, Ibrahim mengungkapkan bahwa pasar kini tengah mencerna arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, yang menunjukkan sikap kurang akomodatif dalam risalah rapat bulan Juni.
Kekhawatiran akan inflasi AS yang tetap tinggi di atas target 2 persen membuat peluang kenaikan suku bunga lanjutan semakin terbuka, yang otomatis memperkuat posisi mata uang dolar AS di pasar global.
"Risalah rapat Fed bulan Juni, yang dirilis pada hari Rabu, kurang lunak daripada yang dikhawatirkan pasar, dengan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku, sebuah tren yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun, terutama jika tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan," ujar Ibrahim.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyebutkan bahwa sentimen konsumen Indonesia yang menurun selama dua bulan berturut-turut turut menekan daya tahan rupiah. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melandai ke level 117,8 pada Juni 2026, dari 120,9 pada Mei, menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai memudar.
"Sementara itu, sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada bulan Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional," kata Ibrahim.