Keputusan tersebut diambil secara bulat dengan suara 12-0 dan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menyoroti risiko inflasi. Warsh mengatakan tekanan harga masih cukup tinggi, dengan sejumlah kategori barang dan jasa mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam periode enam hingga 12 bulan.
Warsh juga membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS akan tetap ketat untuk menjaga inflasi kembali menuju target 2 persen.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan agar The Fed menurunkan suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah, hanya beberapa jam setelah bank sentral AS mengumumkan kenaikan suku bunga. Perbedaan pandangan tersebut kembali menyoroti ketegangan antara pemerintah AS dan bank sentral terkait arah kebijakan moneter.
Dari dalam negeri, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dinilai semakin terbatas.