Imbal hasil obligasi jangka panjang secara global terus meningkat, didorong kombinasi prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, meningkatnya ekspektasi inflasi, serta kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah.
Pekan lalu, setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan pembelian kembali obligasi jangka panjang menjadi USD4 miliar dalam setiap operasi.
Nilai tersebut memang kecil dibandingkan ukuran pasar yang mencapai USD32 triliun. Namun, sinyal bahwa pemerintah melakukan intervensi membuat pelaku pasar khawatir dan menekan dolar.
“Upaya Departemen Keuangan AS yang secara artifisial menahan imbal hasil obligasi jangka panjang tampaknya kembali menghidupkan perdagangan yang bertaruh pada pelemahan nilai dolar AS,” kata kepala strategi investasi di perusahaan jasa keuangan Australia AMP, Shane Oliver, dilansir Reuters.
Poundsterling stabil di level USD1,3650 pada perdagangan pagi, sementara yuan, yang mencatat kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut pada pekan lalu, bergerak di dekat level tertinggi dalam 3,5 tahun, yakni 6,7222 yuan per USD.