Selanjutnya, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 6,54 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melemah 6 persen, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 5,91 persen, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melemah 5,15 persen, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) turun 3,87 persen.
Sementara itu, saham perkebunan sawit dan produsen CPO turut terkena imbas. Saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) anjlok 9,09 persen, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) turun 6,03 persen, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) melemah 3,79 persen, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) turun 3,69 persen, PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) melemah 2,40 persen, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) turun 1,89 persen, serta PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) melemah 1,74 persen.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan pemerintah ingin harga komoditas strategis Indonesia ke depan ditentukan di dalam negeri seiring rencana penataan ulang tata kelola ekspor SDA.
Menurut Prabowo, Indonesia selama ini kehilangan potensi penerimaan besar akibat praktik under invoicing ekspor. Dia menyebut selama 34 tahun terakhir Indonesia kehilangan sekitar USD908 miliar atau setara Rp15.400 triliun karena nilai ekspor dilaporkan lebih rendah dari harga sebenarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal pemerintah untuk memperketat kontrol terhadap perdagangan komoditas strategis, setelah sebelumnya muncul rumor pembentukan badan atau skema pengendali ekspor yang sempat memukul saham batu bara, mineral, hingga CPO.