IDXChannel - Aksi jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik sepanjang sepekan terakhir.
Saham bank Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan emiten batu bara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tercatat menjadi dua emiten dengan tekanan jual asing terbesar.
Berdasarkan data perdagangan, asing mencatat jual bersih (net sell) Rp3,50 triliun sepanjang pekan, seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,37 persen dan ditutup di level level 8.951,01 pada Jumat (23/1/2026).
Posisi indeks tersebut menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di 9.174,47 yang sempat disentuh pada perdagangan intraday 20 Januari 2026.
BBCA menjadi saham dengan nilai jual bersih asing paling besar, mencapai sekitar Rp3,85 triliun dalam sepekan.
Tekanan jual tersebut sejalan dengan pelemahan harga saham BBCA yang turun lebih dari 5 persen ke Rp7.650 per unit dalam periode yang sama.
Di sektor energi, BUMI juga mencatatkan net sell asing sekitar Rp1,34 triliun, dengan harga sahamnya tertekan hingga lebih dari 12 persen secara mingguan ke posisi Rp360 per unit.
Tekanan serupa terlihat pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang dilepas asing sekitar Rp419 miliar, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang masing-masing mencatat net sell di kisaran Rp310 miliar dan Rp301 miliar.
Tak hanya saham perbankan dan teknologi, aksi jual asing juga menyasar emiten berbasis komoditas. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Timah Tbk (TINS) tercatat masuk daftar saham dengan arus dana asing keluar terbesar, meskipun sebagian di antaranya masih mampu mencatatkan penguatan harga saham secara mingguan.
Koreksi IHSG terjadi di tengah nilai tukar rupiah yang kembali melemah signifikan terhadap dolar AS, mendekati kisaran Rp16.980-Rp17.000 per dolar AS, atau mendekati rekor terlemah sepanjang sejarah.
Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran geopolitik, tekanan fiskal, serta derasnya arus keluar modal, yang secara keseluruhan menekan sentimen pasar modal domestik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.