IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan Kamis (23/4/2026) pagi, terseret jebloknya saham-saham konglomerat di tengah sentimen negatif dari pasar global dan rupiah.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.32 WIB, IHSG turun 1,29 persen ke level 7.444,56.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 465 saham melemah, 233 saham menguat, dan 261 saham stagnan.
Penurunan tajam dipimpin oleh saham-saham dalam lingkaran konglomerasi.
Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 6,02 persen ke Rp5.075 per unit, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 3,98 persen ke Rp2.170 per unit, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 1,62 persen ke Rp6.075.
Kemudian, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) terkoreksi 4,30 persen ke Rp1.445, serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 3,04 persen ke Rp1.115.
Sementara itu, dari kelompok Sinarmas, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat penurunan paling dalam yakni 6,37 persen ke Rp2.350, seiring risiko didepak dari MSCI dan indeks utama bursa, bersama BREN, seiring aturan anyar terkait emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC).
Dari kelompok Bakrie, tekanan juga terlihat pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang turun 4,97 persen ke Rp860.
Lebih lanjut, saham yang terafiliasi dengan Grup Salim turut melemah, dengan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turun 3,20 persen ke Rp5.300 dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 1,36 persen ke Rp9.100.
Di sisi lain, saham perbankan cenderung berada di zona merah.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 1,26 persen ke Rp4.690, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 0,93 persen ke Rp3.210, dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) terkoreksi 1,49 persen ke Rp3.300.
Beberapa saham besar lainnya seperti PT Astra International Tbk (ASII) turun 1,89 persen ke Rp6.475 dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah 1,00 persen ke Rp2.970, menambah tekanan terhadap IHSG.
Seiring penurunan IHSG, nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mendekati level terlemahnya sepanjang sejarah, seiring meningkatnya tekanan eksternal di pasar global.
Berdasarkan catatan BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (23/4), rupiah tercatat melemah sekitar 0,79 persen ke posisi Rp17.300 per USD.
Pelemahan ini terjadi di tengah memburuknya sentimen global yang mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko.
BRI Danareksa Sekuritas menilai, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama perubahan arah aliran dana global.
Kondisi tersebut memicu sentimen risk-off, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman.
Di sisi lain, penguatan dolar AS yang ditopang oleh tingginya imbal hasil (yield) obligasi turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Arus keluar modal (capital outflow) pun tak terhindarkan, memperlemah posisi rupiah di pasar valuta asing.
Selain faktor keuangan, lonjakan harga energi global juga memberikan tekanan tambahan.
Sebagai negara net importir energi, Indonesia menghadapi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan yang pada akhirnya membebani nilai tukar.
Bursa Asia Balik Arah
Pelemahan indeks domestik mengekor bursa saham Asia yang berbalik melemah pada Kamis, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi, seiring investor melakukan aksi ambil untung dari reli sektor teknologi.
Di saat yang sama, kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah turut menekan sentimen pasar.
Pergerakan ini terjadi setelah Wall Street kembali mencatatkan penguatan.
Indeks S&P 500 naik 1 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,6 persen dan ditutup di level tertinggi baru, didorong awal musim laporan keuangan yang solid dan meredakan kekhawatiran terhadap daya beli konsumen Amerika Serikat.
Namun di Asia, reli tersebut tidak bertahan lama. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sempat menyentuh rekor sebelum akhirnya berbalik turun sekitar 0,7 persen.
Aksi jual mulai muncul setelah investor mengunci keuntungan dari kenaikan sebelumnya.
Di Jepang, Nikkei 225 sempat mencetak rekor baru untuk hari kedua berturut-turut, namun kemudian berbalik melemah lebih dari 1 persen. Bursa di Korea Selatan dan Taiwan juga mengalami pola serupa—menguat ke level tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi.
Sementara itu, pasar China dan Hong Kong bergerak lebih lemah. Indeks saham unggulan China turun tipis, sedangkan Hang Seng Index melemah sekitar 0,9 persen.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu tekanan di pasar. Harga Brent crude naik sekitar 1,3 persen ke level USD103,18 per barel, setelah melonjak tajam pada sesi sebelumnya dan kembali menembus USD100.
Mengutip Reuters, lonjakan harga energi dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Iran dilaporkan menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz.
Peristiwa ini menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh di kawasan tersebut.
Chief Market Strategist ATFX Global, Nick Twidale, menilai ketegangan geopolitik mulai membebani psikologi pasar. Ia menyebut reli yang terjadi sebelumnya lebih mencerminkan euforia dari Wall Street, sebelum akhirnya investor kembali mempertimbangkan risiko yang berkembang.
“Reli ke rekor tertinggi dipicu kinerja Wall Street, tetapi koreksi yang terjadi menjadi semacam penyesuaian terhadap realitas situasi di Timur Tengah,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, kontrak berjangka Wall Street turut melemah di sesi Asia. Kontrak Nasdaq turun sekitar 0,5 persen, sementara S&P 500 terkoreksi 0,7 persen.
Kontrak berjangka saham Eropa juga mengindikasikan pembukaan yang lebih lemah, dengan indeks kawasan turun sekitar 1,1 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.