Meski demikian, analis menilai harga minyak masih akan bertahan tinggi karena kerusakan infrastruktur energi diperkirakan membuat pasokan tetap ketat.
Analis pasar senior di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan normalisasi rantai pasok minyak tidak akan terjadi dengan cepat.
“Meski konflik mereda, arus tanker tidak akan langsung kembali normal. Biaya pengiriman, asuransi, dan pergerakan kapal membutuhkan waktu untuk pulih, sementara kerusakan infrastruktur baru bisa dinilai setelah situasi stabil,” ujar Sachdeva, seperti dikutip Reuters.
Laporan The Wall Street Journal juga menyebutkan Trump berpotensi mengakhiri perang sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG global.
Sementara itu, riset Capital Economics yang dikutip Dow Jones Newswires menilai harga minyak masih berpeluang tetap tinggi meski perang segera berakhir.