Rencana penyesuaian produksi ini dipandang pasar sebagai langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali permintaan dan pasokan nikel, sekaligus memberikan ruang bagi harga untuk tetap bertahan di level yang lebih sehat.
“Kenaikan harga nikel berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten di sektor nikel, seperti INCO, NCKL, MBMA, DKFT, dan NICL, karena berpotensi meningkatkan kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dan margin laba perseroan,” ujar Investment Analyst Stockbit Theodorus Melvin, Selasa (6/1/2026).
Sebelumnya, mengutip Trading Economics, Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34 persen dalam anggaran 2026.
Langkah ini ditempuh untuk merespons kekhawatiran atas kelebihan pasokan serta peringatan dari pelaku tambang terkait penurunan kadar bijih.
Kebijakan tersebut menjadi upaya terbaru untuk menekan surplus, menyusul ekspansi besar-besaran sektor nikel setelah Indonesia melarang ekspor bijih pada 2020.