IDXChannel – Saham emiten Grup Barito milik Prajogo Pangestu ditutup melonjak pada Selasa (5/5/2026) dipimpin PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang menyentuh auto reject atas (ARA) 25 persen seiring sentimen positif dari lonjakan kinerja dan ekspansi bisnis grup.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BRPT melonjak 24,66 persen ke level Rp2.300 per unit, dengan nilai transaksi jumbo hingga Rp1,29 triliun.
Di bawah BRPT, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melambung 19,70 persen atau menyentuh batas ARA 20 persen ke posisi Rp6.075 per unit.
Kemudian, saham PT Petrosea Tbk (PTRO) terbang 16,26 persen ke Rp5.900 per unit, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mendaki 13,33 persen, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) 12,07 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 2,83 persen.
Kinerja solid sejumlah emiten Grup Barito menjadi katalis positif bagi pergerakan saham, ditopang kombinasi lonjakan laba, ekspansi bisnis, serta membaiknya kondisi operasional di berbagai lini.
BRPT menjadi motor utama dengan lonjakan EBITDA 288 persen secara tahunan (YoY) menjadi USD567 juta pada kuartal I-2026, sekaligus rekor tertinggi kuartalan.
Dalam siaran pers perusahaan, kinerja ini ditopang margin kilang yang kuat di Singapura, didukung crack spread tinggi dan efisiensi operasional, sehingga mampu menahan tekanan di segmen petrokimia.
Laba sebelum pajak pun melonjak 803 persen YoY menjadi USD271 juta, sementara neraca tetap solid dengan rasio net debt-to-equity 0,77x.
Ekspansi juga berlanjut melalui akuisisi jaringan SPBU Esso di Singapura serta penguatan bisnis energi, dengan kapasitas panas bumi yang kini mendorong portofolio Barito Renewables menembus di atas 1 GW.
Di lini energi terbarukan, BREN mencatat pertumbuhan stabil dengan pendapatan naik 9,8 persen YoY menjadi USD165 juta dan EBITDA meningkat menjadi USD145 juta.
Margin yang tinggi di level 87,6 persen serta laba bersih yang tumbuh 24 persen mencerminkan efisiensi yang terjaga, didukung produksi panas bumi yang stabil dan kontribusi segmen angin. Fundamental keuangan juga tetap kuat dengan total aset USD3,94 miliar.
Sementara itu, CDIA menunjukkan ketahanan bisnis dengan adjusted EBITDA USD14,1 juta dan laba bersih USD9,5 juta, ditopang likuiditas kuat.
Permintaan logistik yang stabil dan ekspansi armada, termasuk penambahan kapal kimia, memperkuat prospek pertumbuhan.
Dari sektor energi, CUAN membukukan lonjakan laba bersih 234 persen YoY menjadi USD5,70 juta, seiring pendapatan yang tumbuh 73,57 persen menjadi USD371,33 juta. Laba bruto juga melonjak lebih dari dua kali lipat.
Di sisi petrokimia, TPIA turut mencatat pembalikan kinerja dengan laba bersih sebesar USD146,13 juta pada kuartal I-2026, berbalik dari rugi USD31,8 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ini ditopang pendapatan yang melesat 284,4 persen YoY menjadi USD2,40 miliar dari sebelumnya USD662,09 juta, mencerminkan pemulihan kuat di tengah perbaikan permintaan dan harga.
Sentimen turut diperkuat oleh pemulihan operasional TPIA yang resmi mengakhiri status force majeure pasokan polymer dan monomer.
Normalisasi ini dicapai setelah perseroan mengamankan pasokan alternatif global, meski dengan biaya dan waktu pengiriman lebih tinggi, termasuk dari Amerika Serikat (AS).
Ke depan, optimalisasi produksi ethylene untuk kebutuhan internal serta dukungan fasilitas di Singapura diharapkan memperkuat ketahanan pasokan dan mempercepat respons terhadap permintaan pasar domestik.
Kemudian, PTRO mencatat kinerja kuat pada kuartal I-2026. Pendapatan mencapai USD284,13 juta, naik 84,24 persen dibandingkan USD154,22 juta pada kuartal I-2025.
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD1,39 juta, tumbuh 50,54 persen secara tahunan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.