IDXChannel – Saham-saham emiten nikel bergerak di zona hijau pada Kamis (12/2/2026), seiring sentimen positif dari pasar komoditas.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.58 WIB, penguatan dipimpin oleh PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang melonjak 4,74 persen ke Rp7.175 per unit.
Di posisi berikutnya, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menguat 3,55 persen ke Rp1.460 unit.
Kenaikan signifikan juga dicatatkan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 2,53 persen ke Rp3.240, serta entitas afiliasinya PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang naik 2,05 persen ke Rp745.
Sementara itu, saham PT Timah Tbk (TINS) bertambah 1,05 persen dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,00 persen, mempertegas tren positif di kelompok tambang logam.
Lebih lanjut, PT Harum Energy Tbk (HRUM) menguat 0,88 persen ke Rp1.145.
Kenaikan tipis juga dicatatkan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) sebesar 0,58 persen ke Rp870 dan PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) 0,53 persen ke Rp376.
PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) turut naik 0,51 persen, melengkapi penguatan saham-saham berbasis nikel pada perdagangan kali ini.
Futures nikel bertahan di kisaran USD17.900 per ton, seiring pemerintah Indonesia mengonfirmasi pemangkasan tajam produksi untuk 2026.
Mengutip Trading Economics, pemerintah Indonesia menyetujui kuota bijih nikel sebesar 260-270 juta ton, jauh di bawah realisasi tahun lalu yang mencapai 379 juta ton.
Langkah ini diambil untuk menekan surplus yang berkepanjangan sekaligus menopang harga.
Kuota di bawah 270 juta ton tetap lebih rendah dibandingkan tingkat produksi tahun sebelumnya, dengan proses penerbitan diperkirakan rampung pada Maret.
Di sisi lain, sejumlah smelter China yang beroperasi di Sulawesi Tengah dilaporkan belum menyerahkan laporan wajib kegiatan investasi.
Ketidaklengkapan dokumen tersebut membuat otoritas belum dapat memantau produksi secara menyeluruh.
Sementara itu, DMCI Mining Corporation dari Filipina mencatat rekor produksi bijih nikel sebesar 2,0 juta WMT pada 2025 dan menargetkan 3 juta WMT pada 2026, dengan volume ekspor diperkirakan berlanjut.
Pasokan dari Filipina ini menambah ketersediaan volume untuk pasar regional, termasuk China.
Goldman-Macquarie Kerek Proyeksi
Goldman Sachs dan Macquarie pada 3 Februari lalu menaikkan proyeksi rata-rata harga nikel 2026, seiring pengetatan pasokan bijih dari Indonesia setelah muncul sinyal bahwa pemerintah berencana membatasi produksi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memicu rebound harga nikel pada pertengahan Desember dengan menyatakan komitmen untuk memangkas produksi.
Indonesia tahun ini akan menurunkan kuota izin pertambangan tahunan menjadi 250 juta hingga 260 juta ton basah bijih, dari 379 juta ton pada 2025. Hal tersebut dikonfirmasi seorang pejabat Kementerian ESDM pada 14 Januari.
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, logam utama untuk bahan baku baterai.
Mengutip dari Reuters, Rabu (4/2/2026), Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga nikel 2026 menjadi rata-rata USD17.200 per ton, dari sebelumnya USD14.800, dengan alasan penurunan pasokan bijih Indonesia menjadi 260 juta ton metrik.
Bank investasi raksasa tersebut menyebut harga berpotensi naik hingga sekitar USD18.700 per ton pada kuartal II-2026, seiring ketatnya ketersediaan bijih yang menopang pasar.
Namun, Goldman juga memperkirakan pasokan akan kembali meningkat pada paruh kedua tahun ini setelah adanya persetujuan tambahan yang mendorong produksi mendekati 300 juta ton.
Kondisi itu diperkirakan mengembalikan pasar nikel olahan ke posisi surplus sekitar 191.000 ton dan menekan harga turun mendekati level biaya produksi, sekitar USD15.500 per ton pada akhir 2026.
Sementara itu, Macquarie turut merevisi naik pandangannya dengan menaikkan proyeksi rata-rata harga nikel LME 2026 menjadi USD17.750 per ton, dari sebelumnya USD15.000. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.