Berdasarkan data perdagangan pemerintah, ketiga negara tersebut menyumbang nilai impor senilai USD4,5 miliar (sekitar Rp75,73 triliun) tahun lalu. Ini sekitar dua pertiga dari total impor sepanjang 2025.
Keputusan ini merupakan rangkaian terbaru dari pengenaan bea masuk selama satu dekade terhadap impor produk surya murah dari Asia, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal China. Berdasarkan lembar fakta yang diunggah di situs resmi DOC, lembaga tersebut menghitung tarif subsidi umum bagi para importir.
Melalui keputusan tersebut, pejabat perdagangan AS menyatakan mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di tiga negara itu menerima subsidi pemerintah. Hal ini membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.790-Rp16.820 per USD. Sedangkan rentang untuk satu minggu ke depan Rp16.750-Rp16.900 per USD.
(Dhera Arizona)