Inisiatif ini pada satu sisi merupakan langkah strategis perseroan untuk memperkuat kapasitas dalam menyediakan bahan pangan berkualitas, memperluas rantai pasok, serta meningkatkan aspek profitabilitas perseroan.
”Ketahanan pangan nasional harus diraih dan diupayakan bersama. SKB Food berinisiatif menjadi bagian dari upaya ini yang diharapkan menciptakan nilai dan dampak positif secara lebih luas,” ujar Eko.
Sepanjang 2025, perseroan menilai bahwa industri makanan, minuman, dan waralaba masih menghadapi dinamika biaya dan permintaan yang memengaruhi kinerja hingga kuartal ketiga 2025. Meskipun demikian, perseroan tetap menjaga stabilitas operasional melalui konsolidasi bisnis inti, optimalisasi rantai distribusi, dan penataan portofolio usaha.
Hingga kuartal III-2025, perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp135,03 miliar, namun masih mencatatkan rugi bersih Rp23,01 miliar. Kontributor utama pendapatan berasal dari komoditas ikan sebesar Rp69,89 miliar, komoditas beras sebesar Rp46 miliar, penjualan melalui Lazizaa Rahmat Semesta (LRS) sebesar Rp12,68 miliar, dan bahan baku kebab sebesar Rp3,83 miliar.
Lebih lanjut, pada 2026 mendatang, perseroan juga akan melakukan digitalisasi dan penggunaan Sistem IT dalam perluasan jaringan distribusi dan rantai pasok. Mencakup produk pangan dan nonpangan. Perseroan juga akan membangun lebih banyak brand seperti Rafi Express, Rafina (produk beras), EsKabeh (Seafood), dan Sedap Kesayangan Boenda (Sekeboen) yang merupakan produk makanan siap santap (ready to eat). (Wahyu Dwi Anggoro)