sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sederet Sektor Saham Pilihan di Tengah Rekor IHSG

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
20/01/2026 11:29 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak henti mencetak rekor tertinggi meski tekanan global dan pelemahan rupiah membayangi.
Sederet Sektor Saham Pilihan di Tengah Rekor IHSG. (Foto: MNC Media)
Sederet Sektor Saham Pilihan di Tengah Rekor IHSG. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak henti mencetak rekor tertinggi meski tekanan global dan pelemahan rupiah membayangi.

Di tengah reli ini, pengamat pasar memetakan sektor-sektor saham yang dinilai masih menawarkan peluang menarik bagi investor.

Pada Selasa (20/1/2026) pagi, IHSG tersebut sempat menembus 9.174,47, memecahkan rekor sehari sebelumnya.

Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, sektor berbasis komoditas menjadi salah satu yang paling menarik dalam kondisi pasar saat ini.

“Saham-saham berbasis komoditas seperti emas, metal, timah, serta energi,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).

Ia juga menilai sektor perbankan masih menawarkan valuasi yang atraktif. “Selain itu perbankan juga berada dalam level price-to earnings (P/E) yang murah,” kata Michael.

Lebih lanjut, Michael menjelaskan daya tarik sektor komoditas tidak terlepas dari dinamika geopolitik global. “Komoditas menjadi menarik karena gejolak politik global yang membuat perebutan energi antara China dan US,” tutur dia.

Dalam konteks domestik, Indonesia dinilai berada pada posisi yang diuntungkan. “Sementara diketahui kita memiliki banyak resource SDA yang berlimpah,” ujar Michael.

Lebih lanjut, Michael menjelaskan, penguatan IHSG belakangan ini tidak semata-mata ditopang oleh saham-saham konglomerasi, yang sepanjang tahun lalu menjadi pendorong indeks.

“Jika kita perhatikan, kinerja IHSG saat ini tidak hanya terdongkrak oleh saham-saham konglo saja. Tapi beberapa waktu ke belakang juga terdapat inflow yang cukup baik di sektor perbankan, sebagai weighting terbesar IHSG,” ujar dia.

Ia menambahkan, aliran dana tersebut tercermin dari pergerakan saham perbankan besar yang mulai stabil. “Empat big banks ini tidak mencetak new low lagi,” katanya.

Selain perbankan, Michael menilai minat investor asing juga konsisten mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar lainnya.

“ASII serta TLKM juga rutin mendapat inflow dari foreign. Ini yang mengakibatkan kenaikan IHSG belakangan yang terus mencetak all-time high,” jelasnya.

Menurut Michael, penguatan tersebut terjadi meskipun sentimen domestik belum sepenuhnya solid.

“Secara sentimen dalam negeri masih dipertanyakan, seperti melemahnya rupiah terhadap dolar AS. Tapi pergerakan asing ini sendiri memberikan gambaran outlook terhadap ekonomi Indonesia itu sendiri,” pungkasnya.

KB Valbury Sekuritas mencatat, perhatian pelaku pasar pada pekan ini akan tertuju pada rilis sejumlah indikator makroekonomi domestik, mulai dari pertumbuhan kredit, keputusan suku bunga, hingga perkembangan jumlah uang beredar.

Sementara itu, menurut BRI Danareksa Sekuritas, rekor IHSG terjadi meskipun investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp542 miliar di pasar reguler kemarin. Penguatan ini mencerminkan solidnya permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.

Dari sisi teknikal, BRI Danareksa menilai IHSG berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas untuk menguji level resistance di 9.150.

Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diproyeksikan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

Katalis tambahan diperkirakan datang dari arah kebijakan pemerintah, khususnya di sektor tekstil, komoditas, waste to energy (WTE), serta perbankan, yang dinilai berpotensi menjadi tema penggerak pergerakan harga saham ke depan.

Rupiah di Level Terendah

Sementara, nilai tukar rupiah mencetak rekor terendah terhadap dolar AS pada Selasa, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral setelah Presiden Prabowo Subianto menominasikan keponakannya untuk bergabung dalam Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Rupiah melemah hingga menyentuh level USD16.985 per dolar AS pada Selasa, menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia pekan ini. Sejumlah analis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Sepanjang Januari, rupiah telah tertekan hampir 2 persen, setelah sebelumnya turun 3,5 persen sepanjang 2025.

Juru bicara presiden Prasetyo Hadi mengatakan pada Senin, keponakan Prabowo, Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat sebagai wakil menteri keuangan, merupakan salah satu dari tiga nama yang telah diajukan kepada parlemen.

Manajer portofolio Grasshopper Asset Management, Daniel Tan, mengatakan pelemahan rupiah hingga ke level terendah sepanjang masa terjadi karena kekhawatiran terhadap otonomi bank sentral yang menambah tekanan dari persoalan defisit fiskal yang terus membayangi.

“Penunjukan keponakan Prabowo menambah kekhawatiran yang sudah ada bahwa batas defisit anggaran Indonesia berpotensi dinaikkan. Penunjukan terbaru ini memicu keraguan lebih lanjut terhadap independensi BI,” ujarnya, dikutip Reuters. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement