sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sektor Properti: Laba Kuartal II-2026 Tertekan, Penjualan Sesuai Target

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
11/08/2026 06:23 WIB
Kinerja emiten properti pada kuartal II-2026 belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi analis, meski penjualan presales masih sesuai target tahun ini.
Sektor Properti: Laba Kuartal II-2026 Tertekan, Penjualan Sesuai Target. (Foto: Magnific)
Sektor Properti: Laba Kuartal II-2026 Tertekan, Penjualan Sesuai Target. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Kinerja emiten properti pada kuartal II-2026 belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi analis, meski penjualan presales masih berada di jalur yang sesuai dengan target tahun ini.

Analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus dalam riset yang terbit pada 10 Agustus 2026 mencatat laba bersih agregat sektor properti yang mereka cakup mencapai Rp1,7 triliun pada kuartal II-2026 (2Q26), naik 21 persen secara kuartalan.

Namun, secara kumulatif, laba bersih semester I-2026 hanya mencapai Rp3 triliun atau turun 27 persen secara tahunan.

Realisasi tersebut baru setara 38 persen dari estimasi konsensus untuk 2026, jauh di bawah rata-rata tiga tahun sebesar 52 persen.

Di tingkat perusahaan, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Sumarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat kinerja di bawah ekspektasi, sedangkan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) relatif sesuai dengan proyeksi.

BSDE menjadi emiten dengan kinerja paling lemah. Laba bersih semester I-2026 tercatat Rp604 miliar, menyusut signifikan 53 persen secara tahunan dan baru mencapai 24 persen dari konsensus. Tekanan terutama berasal dari pendapatan pengembangan properti yang lebih rendah.

Sementara itu, PWON membukukan laba bersih Rp1 triliun, turun 11 persen secara tahunan dan baru mencapai 41 persen dari konsensus. Penurunan terutama disebabkan lebih rendahnya pendapatan lain-lain.

SMRA mencatat laba bersih Rp332 miliar atau turun 34 persen secara tahunan, setara 41 persen dari konsensus. Kinerja tersebut tertekan oleh kenaikan beban bunga.

Di sisi lain, CTRA relatif lebih baik dengan laba bersih Rp1,1 triliun, turun 11 persen secara tahunan, tetapi masih sejalan dengan ekspektasi.

Presales Masih Sejalan dengan Target

Di tengah tekanan laba, penjualan pra-pemasaran sektor properti relatif masih terjaga.

Total presales emiten yang dicakup mencapai Rp6,5 triliun pada 2Q26, turun tipis 1 persen secara kuartalan.

Dengan demikian, presales semester I-2026 mencapai Rp13 triliun, turun 5 persen secara tahunan dan secara umum masih sesuai dengan panduan perusahaan untuk 2026.

SMRA menjadi yang paling menonjol. Presales pada 2Q26 mencapai Rp1,3 triliun, naik 12 persen secara kuartalan.

Sepanjang semester I-2026, presales mencapai Rp2,5 triliun atau tumbuh 17 persen secara tahunan dan telah mencapai 49 persen dari target 2026. Capaian ini juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun sebesar 38 persen.

Permintaan yang tetap kuat di Serpong dan Bandung menjadi penopang utama kinerja SMRA.

BSDE juga masih berada di jalur yang sesuai target. Presales 2Q26 mencapai Rp2,6 triliun, naik 1 persen secara kuartalan, sehingga total semester I-2026 menjadi Rp5,1 triliun atau naik 1 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut didorong oleh penjualan komersial yang lebih kuat di kawasan BSD City.

Sebaliknya, CTRA dan PWON masih tertinggal dari sisi pertumbuhan presales, tetapi analis menilai pencapaiannya masih sejalan dengan target tahunan.

CTRA membukukan presales Rp4,7 triliun pada semester I-2026, turun 18 persen secara tahunan dan mencapai 49 persen dari target. Permintaan yang lebih lemah di kawasan Jakarta Raya menjadi salah satu penekan.

Namun, tingginya take-up di Citra Homes Halim memberikan keyakinan terhadap peluncuran proyek premium berikutnya.

PWON mencatat presales Rp603 miliar atau relatif datar secara tahunan, setara 40 persen dari target. Penjualan Eluna Apartment yang lebih lemah sebagian tertutupi oleh permintaan yang tetap kuat untuk proyek high-rise di Surabaya.

Analis memperkirakan CTRA dan PWON dapat mencatat pemulihan pada semester II-2026 seiring lebih banyaknya peluncuran proyek di segmen premium.

Properti Premium Masih Lebih Tahan

Salah satu sinyal positif bagi sektor properti datang dari permintaan di segmen harga tinggi.

Dari tiga emiten yang mengungkapkan presales berdasarkan segmen harga, yakni BSDE, CTRA, dan PWON, penjualan properti premium dengan harga di atas Rp2 miliar hanya turun 2 persen secara kuartalan. Penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan properti non-premium yang merosot 9 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa permintaan properti kelas atas masih lebih kuat dibandingkan segmen pasar massal,” tulis analis Indo Premier.

Indo Premier memperkirakan tren tersebut berlanjut pada semester II-2026, didukung daya beli yang relatif lebih kuat di segmen premium.

Kondisi tersebut juga menjadi katalis bagi sejumlah proyek yang akan diluncurkan, seperti Citra Bukit Golf Sentul dan klaster baru Citra Homes Halim milik CTRA, grand launching Eluna Apartment milik PWON, Nava Park II milik BSDE, serta proyek residensial premium SMRA di Bogor.

Meski demikian, Indo Premier Sekuritas masih meninjau kembali rekomendasi sektor properti.

Pertumbuhan presales yang mulai melandai dinilai dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan laba ke depan.

Di sisi lain, valuasi sektor masih tergolong menarik.

Saham-saham properti yang dicakup diperdagangkan dengan diskon sekitar 86 persen terhadap net asset value (NAV) dan memiliki rasio harga terhadap aba (price to earnings/P/E) sekitar 6 kali, atau sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata historis sejak 2020. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement