Kondisi tersebut dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor energi, tetapi di sisi lain berisiko menambah beban subsidi serta menekan neraca perdagangan apabila berlangsung hingga akhir tahun.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Namun, Kiwoom mencatat sejumlah tantangan, terutama dari sisi konsumsi dan neraca perdagangan.
Penjualan ritel Juni 2026 terkontraksi 3 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, impor melonjak 34,27 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 8,84 persen.
Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Juni berbalik mencatat defisit USD0,45 miliar.
Kiwoom menilai kombinasi tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi mungkin lebih banyak ditopang oleh belanja modal atau investasi dibandingkan konsumsi rumah tangga secara luas.