AALI
9775
ABBA
228
ABDA
0
ABMM
755
ACES
1475
ACST
286
ACST-R
0
ADES
1695
ADHI
1165
ADMF
8100
ADMG
172
ADRO
1200
AGAR
428
AGII
1110
AGRO
915
AGRO-R
0
AGRS
456
AHAP
73
AIMS
446
AIMS-W
0
AISA
280
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3350
AKSI
0
ALDO
885
ALKA
234
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/05/06 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
473.35
-0.06%
-0.28
IHSG
5965.80
-0.17%
-10.11
LQ45
890.07
-0.04%
-0.35
HSI
28515.76
0.34%
+97.78
N225
29391.19
2.01%
+578.56
NYSE
16348.41
0.36%
+59.14
Kurs
HKD/IDR 1,856
USD/IDR 14,435
Emas
829,817 / gram

Siap-siap Investor! Saratoga Bakal Buyback Saham Rp150 Miliar

MARKET NEWS
Rina Anggraeni/Sindonews
Jum'at, 16 April 2021 19:06 WIB
PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) terus agresif dalam melakukan aksi korporasi.
Siap-siap Investor! Saratoga Bakal Buyback Saham Rp150 Miliar. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - PT Saratoga Investama Tbk (SRTG) terus agresif dalam melakukan aksi korporasi. Setelah berencana melakukan buyback saham senilai Rp150 miliar dan stock split, dengan rasio 1 banding 5 (1:5), Saratoga meningkatkan kepemilikan saham sebanyak 4,34% di PT Mitra Pinastika Mustika Tbk (MPMX).

Buyback saham Saratoga dilakukan sebanyak-banyaknya 0,92% saham dari modal disetor atau maksimum hingga 25 juta lembar saham, yang akan dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB pada 28 April 2021 sampai RUPS selanjutnya paling lambat pada 30 Juni 2022.

Saratoga menyatakan pembelian saham maksimal sebanyak 0,92% dilakukan seiring dengan keyakinan harga saham belum mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Berbagai aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk terus mendorong pertumbuhan bisnis perusahaan investasinya.

Apalagi di tengah pandemi Covid 19 yang masih terjadi saat ini banyak peluang yang masih dapat dioptimalkan oleh Saratoga. Strategi Saratoga fokus berinvestasi pada perusahaan early-stage growth-stage dan special situation opportunities.

Dalam pandangan Analis pasar modal dari Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto, mengatakan, berbagai aksi korporasi dilakukan Saratoga berpotensi besar menciptakan nilai tambah (creating value added) dan menjadikan prospek investasi di saham ini akan semakin menarik. Apalagi secara fundamental harga saham berkode SRTG ini masih tergolong undervalued atau dibawah harga wajarnya.

Strategi Saratoga yang fokus pada perusahaan yang sedang bertumbuh (growth-stage) atau mengawali pertumbuhan (early stage) pada tiga sektor utama yang prospektif dengan target internal rate of return (IRR) di atas 20% per tahun, dinilai Fendi, merupakan strategi yang baik untuk meningkatkan nilai perusahaan secara cepat dan sustain.

"Tiga sektor investasi yang dipilih Saratoga merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu sector Natural Resources, Infastruktur dan Consumer Goods. Recovery ekonomi pasca pandemi akan memberikan momentum penguatan bisnis lebih cepat pada perusahaan-perusahaan investasi Saratoga," jelas Fendi di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Berkat diversifikasi investasi di tiga sektor strategis tersebut, meski tahun lalu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi, bahkan resesi, Saratoga justru meraih kenaikan laba bersih sebesar 20% menjadi Rp8,82 triliun. Nilai aset bersih (net asset value/NAV) perseroan di akhir tahun lalu melesat 39% hingga senilai Rp31,70 triliun.

Fendi menilai sebagai perusahaan investasi Saratoga memiliki portofolio investasi yang dominan disegmen pasarnya. Misalnya PT Adaro Energi Tbk (ADRO) dan PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) yang sudah memasuki perusahaan matang. Saratoga juga memiliki investasi di perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX).

Sepanjang tahun 2020 nilai investasi Saratoga di MDKA naik 120% menjadi Rp10,18 triliun dan nilai investasi di TBIG tumbuh 56% menjadi Rp12,64 triliun.

Tahun lalu Saratoga juga berhasil membukukan pendapatan dividen sebesar Rp750 milliar, yang sebagian besar dikontribusikan oleh ADRO sebesar Rp215 miliar, TBIG Rp214 miliar, MPMX sebesar Rp210 miliar dan PT Provident Agro Tbk (PALM) sebesar Rp105 miliar.

Direktur Investasi Saratoga, Devin Wirawan, menjelaskan, selama pandemi sejumlah perusahaan portofolio Saratoga menemukan momentum pertumbuhan bisnisnya. Ia menyebut kinerja MDKA terus menguat berkat kenaikan harga komoditas emas dan tembaga yang sangat tinggi di tahun 2020.

"Integrasi masyarakat yang semakin cepat ke ekosistem digital telah memberikan peluang yang semakin besar kepada TBIG sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi," bebernya.

Di sektor konsumer, Saratoga berinvestasi di PT Famon Awal Bros Sedaya (Primaya Hospital). Grup Primaya Hospital ini terus memperluas jaringannya untuk mendukung upaya pemerintah memberikan fasilitas kesehatan terbaik dan terjangkau, termasuk dalam penanggulangan COVID-19.

Menurut Fendi, secara teknikal saham SRTG sedang berkonsolidasi dalam pola symmetrical triangle, pasca kenaikan yang signifikan dari harga sebelumnya Rp3.500 ke harga Rp6.250. Pola konsolidasi yang sedang terjadi dengan trend penguatan besar yang terlihat dari tiga garis moving average periode jangka pendek hingga panjang yang uptrend, menunjukkan ada peluang besar harga naik hingga mencapai level Rp8.700 hingga Rp 9.600 sebagai target harga penguatan secara teknikal.

Fendi menambahkan, secara fundamental, SRTG yang memiliki NAV sekitar Rp32,6 trilliun, dengan metode valuasi diskon holding sebesar 25%, maka nilai wajar SRTG sebesar Rp24,45 triliun.

Jika dibandingkan dengan market capitalization SRTG saat ini sebesar Rp15,73 triliun (di harga saham Rp5.800), maka harga saham SRTG masih mencerminkan potensi kenaikan sebesar 55.4% ke harga wajarnya untuk mencapai intrinsic value sebesar Rp9.015 per saham.

“Secara umum, harga saham SRTG undervalued dan sangat atraktif untuk tujuan trading maupun investasi jangka panjang. Rencana buyback menunjukkan keyakinan manajemen SRTG untuk melakukan reinvestasi pada dirinya sendiri karena dipandang masih undervalued, dan stock split juga akan membuat secara psikologis saham SRTG menarik bagi trader maupun investor karena harga saham akan dipecah menjadi lebih kecil nominalnya sehingga lebih likuid,“ tambah Fendi. (TYO)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD