sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

S&P DJI Kaji Penurunan Status Pasar Modal RI, Outflow Asing Berpotensi Rp3,6 Triliun

Market news editor Iqbal Dwi Purnama
08/07/2026 19:10 WIB
BEI memperkirakan potensi arus keluar dana asing (capital outflow) sekitar Rp3,6 triliun akibat rencana memasukkan Indonesia ke Country Classification Watchlist
S&P DJI Kaji Penurunan Status Pasar Modal RI, Outflow Asing Berpotensi Rp3,6 Triliun (Foto: dok Freepik)
S&P DJI Kaji Penurunan Status Pasar Modal RI, Outflow Asing Berpotensi Rp3,6 Triliun (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan potensi arus keluar dana asing (capital outflow) sekitar Rp3,6 triliun akibat rencana S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) mengkaji penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy mengatakan, estimasi tersebut diperoleh dari sejumlah pelaku pasar.

"Yang saya dengar  beberapa pihak (potensi outflow) sekitar USD200 juta atau sekitar Rp3,6 triliun hingga Rp4 triliun. Tapi kami lagi mencari angka dan lagi cari hitungan, kira-kira berapa yang keluar," ujarnya saat ditemui di Gedung BEI, Rabu (8/7/2026).

Irvan mengakui, perubahan klasifikasi pasar memang berpotensi memicu arus keluar dana asing. Namun dampak tersebut tidak akan terjadi secara langsung karena penyedia indeks global umumnya memberikan masa transisi sebelum perubahan status diberlakukan.

“Mereka (S&P DJI) biasanya masih memberikan waktu, kalau tidak salah sekitar satu tahun di suratnya. Jadi, kita berharap sebelum itu atau dalam waktu dekat, kita sudah bisa lakukan perbaikan sehingga mereka bisa mengeluarkan statement yang lebih positif,” kata dia.

Sebagai langkah antisipasi, BEI telah menghubungi S&P DJI untuk menggelar diskusi sekaligus memaparkan berbagai reformasi yang telah dilakukan di pasar modal Indonesia. 

Reformasi tersebut antara lain penerapan ketentuan free float minimum 15 persen, keterbukaan informasi mengenai pemegang saham di atas 1 persen, serta implementasi daftar High Shareholder Concentration (HSC) untuk meningkatkan transparansi pasar.

Di tengah potensi penurunan status pasar tersebut, Irvan mengimbau investor agar tetap percaya terhadap fundamental dan integritas pasar modal Indonesia. Menurutnya, BEI terus memperkuat transparansi dan pengawasan dengan mengadopsi praktik terbaik dari sejumlah bursa global, termasuk di Hong Kong dan India.

"Kami pastikan informasi yang kami sampaikan itu akurat. Kami menjunjung tinggi integritas pasar. Semua upaya manipulasi transaksi ditindaklanjuti oleh Bursa dan OJK. Kami berharap investor tetap confidence bahwa bursa ini dikelola dengan baik," tutur Irvan.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement